I. PENDAHULUAN
Budidaya ikan lele
adalah usaha yang meng-untungkan karena sebagian dapat dimakan sendiri
dan sebagian hasilnya dapat dijual dan merupakan tambahan penghasilan
bagi yang mengusahakannya. Pemasaran ikan lele
dumbo dewasa ini cukup baik dan lancar. Baik dalam bentuk benih maupun
daging atau ukuran konsumsinya. Sampai dengan saat ini (awal tahun 2006)
harga jual ikan lele dumbo ditingkat petani mencapai harga Rp 7.000,00 per kilogram. Setiap kilogram lebih kurang terdiri dari 5 sampai 10 ekor.
Guna memenuhi permintaan kebutuhan ikan lele di pasar, pembudidayaan ikan lele
di kolam – kolam perlu ditingkatkan. Dengan meningkatkan
pembudi-dayaannya maka produksi pun akan meningkat dan persediaan di
pasar juga tidak kekurangan lagi.
Dalam usaha budidaya ikan lele,
ada dua kegiatan besar yang harus ditingkatkan secara bersamaan, yaitu
usaha pembenihan (yang menyediakan benih) yang meliputi pemeliharaan induk, persiapan wadah dan substrat, pemilihan induk siap pijah, pemijahan, penetesan telur dan perawatan
larva. Dan usaha pembesarannya yang meliputi persiapan kolam, penebaran
benih, pemeliharaan benih, dan pemanenan. Serta penanggulangan hama dan
penyakit. Apabila usaha pembenihan dan pembesarannya sudah meningkat,
berarti produksi pun telah meningkat.
II. PENGENALAN IKAN LELE
Lele
merupakan salah satu komoditas ikan yang dibudidayakan di air tawar.
Keberadaannya amat populer hampir di seluruh Indonesia. Ikan lele
yang ada di Indonesia mempunyai beberapa nama daerah, antara lain :
ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan
Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele
atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama
mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (malaysia), gura magura
(Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula
catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele
tidak pernah ditemukan di air payau atau asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang
air. Ikan lele bersifat nocturnal yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap.
Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan :
1. Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Sumatera Utara), ikan pintet (Kalimantan Selatan)
2. Clarias teysmani, dikenal sebagai lele kembang (Jawa Barat), kalang putih (Padang).
3. Clarias melanoderma, dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan), wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat)
4. Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera Barat), kaleh (Kalimantan Selatan)
5. Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan penang (Kalimantan Timur)
6. Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai ikan lele dumbo, king catfish, berasal dari afrika.
Yang kita jumpai di pasaran sebagian besar adalah ikan lele dari jenis clarias gariepinus atau yang sering disebut orang lele dumbo. Lele dumbo merupakan hasil kawin silang antara betina lele
clarias fuscus yang asli Taiwan dengan pejantan clarias gariepinus yang
berasal dari Afrika dan pertumbuhannya tergolong cepat. Ternyata lele
dumbo ini memang mempunyai sifat yang unggul yaitu dapat tumbuh pesat
dan mencapai ukuran besar dalam waktu lebih cepat dibandingkan lele lokal. Karena cepat tumbuh dan badannya gemuk itulah maka dinamai “lele dumbo” . Sifat-sifat lele dumbo antara lain sebagai berikut :
a. Apabila terkejut atau menderita strees, warna badan berubah menjadi bercak-bercak hitam/putih.
b. Gerakannya lebih agresif
c. Patilnya tidak beracun
d. Tidak merusak pematang
e. Tumbuh lebih cepat
f. Dapat mencapai ukuran lebih besar
g. Lebih banyak kandungan telur
h. Pakan tambahan bermacam-macam
Mungkin bagi masyarakat awam sangat sulit membedakan lele lokal dengan lele dumbo. Namun, bagi petani ikan atau kalangan perikanan akan sangat mudah mengetahui beda antara lele lokal dan lele dumbo. Bila dilihat sepintas, lele dumbo dan lele
lokal akan tampak sama karena organ tubuhnya memang tidak berbeda.
Namun, kalau dilihat lebih seksama, perbedaan tersebut dapat tampak
jelas. Ciri pertama yang dapat membedakannya adalah warna kulit yang
dapat jelas terlihat dari jarak 2 – 3 meter. Kulit lele lokal berwarna hitam, abu-abu dan terkadang putih yang juga dihiasi titik atau bintik putih kecil. Sementara lele
dumbo agak keunguan atau kemerahan dengan bintik besar sehingga tampak
seperti baju loreng tentara. Kalau sedang stres atau kaget, warna kulit lele dumbo akan berubah menjadi lebih loreng, sedangkan pada lele lokal kurang tampak perubahan warnanya.
Tabel 1. Perbedaan Lele Dumbo dan Lele Lokal
Uraian Lele Dumbo Lele Lokal
• Warna kulit
• Perubahan warna saat stres
• Gerakan
• Patil
• Sifat biologis • Keunguan atau kemerahan berbintik besar (loreng)
• Lebih loreng
• Lincah
• Tidak beracun
• Tidak merusak pematang • Hitam abu-abu, terkadang putih berbintik
• Tidak berubah
• Kurang lincah
• Beracun
• Merusak pematang
III. TINGKAH LAKU DAN SIFAT BIOLOGIS
A. Klasifikasi dan ciri morfologi
Lele
dumbo (Clarias glariepinus) merupakan jenis ikan yang termasuk dalam
famili Claridae dan jenis clarias. Spesies ini merupakan saudara dekat
dengan lele lokal yang selama ini dikenal sehingga ciri-ciri morfologinya sama.
Ikan lele
mempunyai bentuk badan yang berbeda dengan jenis ikan lainnya, seperti
ikan mas, nila, patin, gabus, bawal, gurame atau tawes. Karenanya,
sangat mudah dibedakan dari jenis-jenis ikan tersebut. Ikan lele
memiliki bentuk badan yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik,
memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba dan
memiliki alat pernapasan tambahan. Bagian depannya terdapat penampang
melintang yang membulat, sedangkan bagian tengah dan belakang berbentuk
pipih.
Alat pernapasan tambahan terletak di bagian kepala di
dalam rongga yang dibentuk oleh dua pelat tulang kepala. Alat pernapasan
ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang
penuh kapiler-kapiler darah. Mulutnya terdapat dibagian ujung moncong
dan dihiasi oleh empat pasang sungut, yaitu satu pasang sungut hidung,
satu pasang sungut maksilar dan dua pasang sungut mandibula. Insangnya
berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang.
Siripnya terdiri atas lima jenis, yaitu sirip dada,
sirip punggung, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip dadanya
berbentuk bulat agak memanjang dengan ujung runcing, dan dilengkapi
dengan sepasang duri yang biasa disebut patil. Patil pada lele dumbo tidak begitu kuat dan tidak begitu beracun dibanding jenis lele lokal.
B. Perilaku dan syarat hidup
Secara umum, lele dumbo mempunyai perilaku yang hampir sama dengan lele lokal. Beberapa sifat fisiologis dan perilaku lele dumbo yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :
1. Ikan lele dumbo mempunyai insang berukuran kecil, sehingga kurang efektif untuk bernafas. Sebagai gantinya, lele
dumbo mempunyai alat pernapasan tambahan yang hanya dapat digunakan
bila mengambil oksigen langsung dari udara. Oleh sebab itu, lele dumbo sering menyembul ke permukaan air untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Karena sifatnya itu, lele dumbo dapat dipelihara di kolam yang tergenang dan dapat hidup pada air yang keruh sekalipun. Sebaliknya, lele tidak dapat hidup pada kolam yang permukaan airnya tertutup rapat oleh sampah atau dedaunan hidup, seperti eceng gondok.
2. Ikan lele
dumbo memiliki kebiasaan membuat atau menempati lubang-lubang di tepi
sungai/kolam sebagai sarangnya. Selain itu, mempunyai kebiasaan
mengaduk-aduk lumpur di dasar perairan untuk mencari makanan.
3. Mata ikan lele
dumbo berukuran kecil sehingga penglihatannya kurang baik. Sebagai
gantinya, ia mempunyai alat peraba berupa sungut dan indera penciuman
yang tajam.
4. Ikan lele dumbo bersifat nocturnal, yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele dumbo memilih berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat yang gelap.
5. Ikan lele
dumbo termasuk ikan air tawar yang menyukai genangan air yang agak
tenang. Di sungai-sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai pada
tempat-tempat yang aliran airnya tidak terlalu deras.
6. Kondisi yang ideal bagi hidup ikan lele
dumbo adalah air yang mempunyai pH (keasaman air) 6,5-9 dan bersuhu 24 –
26 derajat celcius. Kandungan oksigen yang terlalu tinggi akan
menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung dalam jaringan tubuhnya.
Sebaliknya penurunan kandungan oksigen secara tiba-tiba dapat
menyebabkan kematian. Kandungan oksigen dapat menurun antara lain karena
banyaknya bahan organik yang terurai atau banyaknya binatang atau ikan
yang hidup di dalam kolam bersama lele
dumbo. Penguraian bahan organik di dalam air memerlukan oksigen serta
melepaskan gas CO2 dan H2S yang beracun dan larut di dalam air. Air yang
ideal bagi lele
dumbo mempunyai kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter. Penguraian
bahan organik tersebut biasanya akan semakin meningkat sebanding dengan
meningkatnya suhu air.
7. Ikan lele dumbo memiliki kebiasaan meloncat. Loncatannya dapat lebih dari setengah meter. Dibanding dengan lele lokal, lele
dumbo memiliki gerakan-gerakan yang lebih agresif/lincah. Gerakannya
lebih banyak naik turun, sehingga memerlukan kolam yang dalam.
8. Ikan lele dumbo termasuk jenis ikan pemakan segala atau omnivora, tetapi di alam bebas makanan alami lele
dumbo terdiri dari jasad-jasad renik yang berupa zooplankton dan
fitoplankton seperti jentik-jentik nyamuk, anak ikan dan sisa-sisa bahan
organik yang masih segar. Meskipun demikian, jika telah dibudidayakan,
misalnya dipelihara di kolam, ikan lele
dumbo dapat memakan pakan buatan seperti pelet yang yang dibuat dari
pabrik pakan ikan. Sewaktu hidup bebas di alam maupun ketika di pelihara
di kolam, ikan lele
dumbo tergolong jenis ikan yang sangat responsif terhadap makanan.
Artinya, hampir semua pakan yang diberikan sehari-hari disantap dengan
lahap. Itulah sebabnya ikan ini cepat besar (bongsor) dalam waktu yang
singkat.
IV. MEMILIH LOKASI BUDIDAYA
A. Lokasi Budidaya yang Tepat
Salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya ikan lele
dumbo adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi atau lahan budidaya. Ada
beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menjatuhkan pilihan
terhadap lokasi atau lahan budidaya yang diminati. Memilih lahan
budidaya ikan lele
dumbo tidak boleh sembarangan, perlu berbagai pertimbangan. Pertimbangan
tersebut sangat penting agar selama melakukan kegiatan pemeliharaan
tidak menemukan kendala yang menghambat proses produksi. Lahan budidaya
yang dipilih minimal harus ditinjau dari faktor teknis, sosial dan
ekonomi. Adapun persyaratan lahan budidaya ikan lele dumbo adalah sebagai berikut.
1. Fakor Teknis
a. Lahan harus dekat dengan sumber air, tetapi bukan daerah banjir.
b. Air berkualitas baik dan tidak tercemar limbah industri.
c. Ketersediaan air kontinyu atau dapat mengairi kolam sepanjang tahun.
d. Tanahnya subur.
2. Faktor Sosial
a. Lingkungan hidup dan kelestarian alam dapat di jaga.
b. Sumber daya alam sekitar dapat digunakan.
c. Penduduk disekitar lokasi dapat dijadikan tenaga kerja.
d. Berdampak positif bagi masyarakat sekitar
e. Keamanan lokasi dapat dijaga.
3. Faktor Ekonomi
a. Lokasinya dekat dengan daerah pemasaran.
b. Sarana produksi mudah diperoleh dangan harga murah.
c. Di lokasi ada prasarana jalan yang baik dan angkutan yang memadai.
d. Sarana penghubung seperti telepon lancar.
Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah aspek teknis. Tanpa dukungan teknis yang memadai, usaha budidaya ikan lele tidak akan berhasil. Untuk itu, harus ada tenaga ahli yang menguasai budidaya ikan lele
dari seluruh aspek, yakni aspek biologis, teknis pembenihan,
pendederan, pembesaran, penanggulangan hama dan penyakit, penyediaan
pakan, panen dan pasca panen. Di samping itu, diperlukan tenaga kerja
yang jeli dalam melihat dan memanfaatkan peluang pasar yang ada.
B. Kuantitas dan Kualitas Air
Air merupakan faktor terpenting dalam budidaya ikan. Bukan hanya ikan lele,
ikan-ikan lain pun untuk hidup dan berkembang biak memerlukan air.
Tanpa air ikan tidak akan dapat hidup. Karenanya, kualitas dan kuantitas
air harus diperhatikan agar kegiatan budidaya berjalan sesuai dengan
yang diharapkan.
Kuantitas air adalah jumlah air yang tersedia yang
berasal dari sumbernya, seperti sungai atau saluran irigasi untuk
mengisi dan mengairi kolam. Jumlah air yang dibutuhkan atau yang
mengalir tersebut dikenal dengan istilah debit air. Debit air yang
dibutuhkan untuk budidaya ikan lele adalah 10 liter per menit.
Air untuk perkolaman dapat berasal dari beberapa sumber
seperti mata air, saluran irigasi dan sungai. Kualitas air adalah
variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan lele.
Variabel tersebut dapat berupa sifat fisika, kimia dan biologi air.
Sifat fisika air meliputi suhu, kekeruhan dan warna air. Sifat kima air
adalah kandungan oksigen, karbondioksida, amoniak, dan alkalinitas.
Sifat biologi air meliputi jenis dan jumlah binatang air, seperti
plankton yang hidup di suatu perairan.
C. Tekstur dan Struktur Tanah
Tanah merupakan faktor mutlak dalam pembuatan kolam
budidaya. Tanah yang baik akan menghasilkan kolam yang kokoh dan kuat,
terutama bagian pematang atau tanggulnya. Tanah yang kokoh dapat menahan
tekanan air yang ada di dalam kolam sehingga kolam tidak mudah jebol
dan dapat menahan air.
Di Indonesia, ada empat jenis tanah yang dapat dipilih untuk pembudidayaan ikan lele
dumbo, yaitu tanah lempung berpasir, tanah serapan, tanah berfraksi
kasar dan tanah berbatu. Dari keempat jenis tanah tersebut hanya tanah
lempung berpasir yang terbaik untuk kolam. Jenis tanah ini akan
membentuk pematang yang kuat dan kolamnya subur.
Jenis tanah lempung berpasir dapat diketahui dengan
cara digenggam. Bila tidak pecah dan tidak melekat di tangan maka tanah
tersebut sangat baik untuk kolam.
Kolam diartikan sebagai genangan air yang sengaja
dibuat oleh manusia dan keadaannya dapat dikendalikan dengan mudah.
Dikendalikan dengan mudah artinya mudah diairi dan dikeringkan dalam
waktu cepat. Membuat kolam tidak sulit, asalkan prinsip kolam sudah di
ketahui. Sebuah kolam harus memiliki tiga bagian utama, yaitu pematang,
pintu pemasukan air dan pintu pengeluaran air.
V. PEMBENIHAN IKAN LELE
Kegiatan pembenihan merupakan kegiatan awal di dalam budidaya ikan lele. Tanpa kegiatan pem-benihan, kegiatan yang lain, seperti pendederan dan pembesaran ikan lele,
tidak akan terlaksana. Karena, benih yang digunakan pada kegiatan
pendederan dan pembesaran semuanya berasal dari kegiatan pembenihan.
Secara garis besar, kegiatan pem-benihan meliputi pemeliharaan induk, persiapan wadah dan substrat, pemilihan induk yang siap pijah, pemijahan dan perawatan larva atau benih.
A. Pemeliharaan Induk Ikan Lele
Pemeliharaan calon induk sangat perlu diperhatikan karena hanya dari induk yang baik dapat diperoleh benih yang baik kualitas maupun kuantitasnya. Pemeliharaan dan perawatan induk dan calon induk ikan lele haruslah ditujukan agar induk-induk ikan lele
itu selalu dalam keadaan sehat, pertumbuhannya cepat dan daya
vitalitasnya tinggi sehingga dapat menghasilkan jumlah telur yang banyak
dan keturunannya sehat.
Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan lele
tidak disediakan secara khusus, tetapi hanya memanfaatkan kolam-kolam
yang ada dibelakang rumah atau kolam comberan tempat penampungan air
limbah rumah tangga. Luas kolam yang digunakan disesuaikan dengan luas
lahan. Biasanya tidak lebih dari 6 meter persegi. Jumlah kolam induk sebanyak dua buah yang digunakan untuk memisahkan induk lele jantan dan induk lele betina.
Sistem pengairan pada kolam induk hanya terdiri dari saluran pemasukan dan saluran pembuangan. Air yang masuk ke kolam induk berasal dari air buangan rumah tangga, seperti dari kamar mandi, bekas cucian peralatan dapur atau air hujan. Induk
yang dipelihara tidak terlalu banyak, hanya 1-2 kg per meter persegi
luas kolam atau hanya berisi 4 ekor per meter perseginya. Sedangkan
ketinggian air di kolam induk antara 60 – 75 cm.
Di dalam kolam pemeliharaan, induk ikan lele harus diberi pakan tambahan dalam jumlah yang cukup agar kematangan gonadnya (sel telur) berjalan dengan sempurna. Induk ikan lele memerlukan makanan/pakan berkadar protein tinggi. Jenis pakan yang bisa diberikan pada induk ikan lele
ada dua yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yaitu pakan
hidup seperti siput air (keong emas) atau sisa-sisa hewan ternak yang
dipotong, misalnya bagian usus hewan potong yang biasanya dibuang.
Bahkan bangkai ayam pun dapat diberikan kepada induk ikan lele.
Selain pakan alami, ada juga pakan buatan adalah pakan buatan pabrik
yang khusus untuk ikan. Pakan ini dinamakan pelet yang mengandung kadar
protein 25 – 30 % di lengkapi dengan asam lemak esensial (asal dari
minyak ikan) dan vitamin-vitamin. Pakan pelet untuk induk ikan lele
harganya memang mahal sehingga pemberiannya cukup sebagai pelengkap
saja, yaitu seminggu 2 kali saja sebanyak 5 % dari berat seluruh induk ikan yang dipelihara. Semantara dalam kesehariannya, induk ikan lele bisa diberi pakan alami berupa cacahan keong mas/siput yang menjadi hama tanaman padi.
B. Memijahkan Induk Ikan Lele
1. Persiapan wadah dan substrat.
Sebelum melakukan pemijahan (mengawinkan ikan), perlu
dilakukan beberapa persiapan agar proses pemijahan dapat berjalan dengan
lancar. Dalam proses pemijahan ikan lele
digunakan wadah atau bak untuk pemijahannya. Bak untuk pemijahan bisa
terbuat dari bangunan beton atau kerangka kayu yang dilapis dengan
terpal plastik. Untuk setiap pasang induk yang beratnya antara 0,5 – 1 kg diperlukan satu buah bak pemijahan dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 meter atau 1 x 2 x 0,5 meter.
Sebelum bak di gunakan, bak di cuci bersih terlebih
dahulu agar kotoran-kotoran dan lumut yang menempel terlepas dan dasar
bak menjadi bersih. Fungsi dari membersihkan bak adalah untuk
menghilangkan bibit penyakit yang menempel pada bak.
Selanjutnya bak diisi dengan air bersih setinggi 30 – 40 cm. Sebagai tempat atau media menempelnya telur ikan lele
(substrat), di dasar bak di pasang kakaban yang terbuat dari ijuk yang
di cepit dengan sebilah bambu. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran
bak pemijahan. Namun, ukuran kakaban yang biasa digunakan panjang 50 –
75 cm dan lebar 30 – 40 cm.
Sebagai patokan, untuk satu pasang induk ikan lele dengan berat induk
ikan betina 500 gram, dibutuhkan kakaban sebanyak 3 – 4 buah. Jika
kurang, di khawatirkan telur yang dikeluarkan ketika proses pemijahan
berlangsung tidak tertampung seluruhnya atau menumpuk di salah satu
kakaban, sehingga telur akan mati dan membusuk kemudian tidak menetas.
Kakaban harus menutupi seluruh permukaan dasar bak pemijahan., sehingga
semua telur ikan lele tertampung di kakaban. Untuk menghindari agar induk lele tidak melompat keluar dari bak pada saat pemijahan, sebaiknya bak di tutup.
2. Memilih Induk Siap Pijah (kawin)
Tidak semua induk ikan lele dumbo yang dipelihara dapat di pijahkan. Hal ini disebabkan belum tentu semua induk ikan lele telah matang kelamin (baik telur dan sperma) dan siap dipijahkan. Sebelum dipijahkan, induk ikan lele dumbo dipilih yang sesuai dengan persyaratan. Salah satu persyaratan yang utama adalah induk ikan lele dumbo telah berumur satu tahun, baik induk jantan maupun induk betina. Pemilihan induk ikan lele dumbo dilakukan dengan cara mengeringkan kolam induk, baik kolam induk jantan mapun kolam induk betina, sehingga induk-induk ikan lele dumbo akan terkumpul dan tertangkap seluruhnya. Selanjutnya induk-induk tersebut di tangkap dengan menggunakan seser atau serokan dan ditampung dalam wadah penampungan. Setelah induk-induk ikan lele dumbo tertangkap seluruhnya, kemudian dilakukan seleksi atau memilih induk lele yang siap untuk dipijahkan.
Ciri-ciri induk ikan lele dumbo betina yang siap untuk dipijahkan sebagai berikut :
• Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
• Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
• Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah
anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna hijau tua dan ukurannya
relatif agak besar.
• Gerakannya lambat.
Ciri-ciri induk ikan lele dumbo jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut :
• Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing
• Warna tubuh agak kemerah-merahan.
• Tubuh ramping dan gerakannya lincah.
• Perutnya lebih langsing dan kenyal bila di banding induk ikan lele betina.
3. Memijahkan Induk Ikan Lele
a. Memijahkan secara alami
Induk ikan lele
dumbo jantan dan betina yang sudah diseleksi atau dipilih dengan tepat
yang siap pijah di lepaskan ke dalam bak pemijahan. Ukuran induk ikan lele yang dipijahkan harus seragam dan seukuran atau beratnya sama. Kalau induk jantan mempunyai berat 500 gram per ekor maka induk betina juga harus 500 gram per ekornya.
Induk ikan lele dumbo di lepas pada bak pemijahan yang telah disiapkan sekitar pukul 15.00 sore. Agar induk ikan lele
dumbo yang sedang dipijahkan tidak meloncat keluar, bagian atas bak
pemijahan di tutup menggunakan papan, triplek atau bilah bambu. Induk ikan lele akan berpijah pada malam hari menjelang pagi hari, biasanya antara pukul 24.00 – 04.00.
Selama proses pemijahan berlangsung, secara ber-samaan induk ikan lele betina akan mengeluarkan telur dan induk ikan lele jantan mengeluarkan sperma nya. Pembuahan akan terjadi di luar tubuh induk atau di dalam air.
b. Memijahkan dengan disuntik hormon
Memijahkan (mengkawinkan) induk ikan lele dumbo dengan hormon dilakukan tidak hanya mengandalkan manipulasi lingkungan. Manusia lebih banyak ikut campur di dalamnya.
Salah satu kegiatan pokok atau kegiatan inti yang dilakukan pada pemijahan dengan disuntik hormon ini adalah induk-induk ikan lele
yang akan dipijahkan (di kawinkan), baik jantan maupun betina,
dirangsang terlebih dahulu menggunakan hormon melalui penyuntikan.
Hormon yang digunakan untuk merangsang ikan lele dumbo agar memijah adalah hormon alamiah (dari kelenjar hifofisa) dan hormon sintetis (buatan).
Hormon alamiah ini diambilkan dari kelenjar hipofisa
yang terletak di bagian bawah otak kecil ikan. Setiap ikan (juga makhluk
bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak
di bawah otak kecil. Kelenjar hipofisa ini hanya sebesar butir kacang
hijau bahkan lebih kecil.
Untuk penyuntikan ikan lele
dumbo diperlukan kelenjar hipofisa yang diambil dari donor, sedangkan
penerimanya disebut resipien. Sebagai donor dapat dipilihkan dari ikan lele dumbo, ikan mas atau ikan lele lokal. Hormon yang berasal dari ikan jenis lain tidak cocok untuk ikan lele dumbo.
Banyaknya kelenjar hipofisa yang perlu disuntikan kepada induk ikan lele dumbo adalah 1 dosis. Artinya, seekor ikan lele dumbo yang beratnya 0,5 kg, misalnya, memerlukan kelenjar hipofisa yang berasal dari donor (ikan lele, ikan mas) yang berat badannya 0,5 kg. Sebagai ikan donor sebaiknya dipilihkan ikan yang sudah dewasa.
Selain menggunakan hormon alamiah (hipofisa),
penyuntikan juga dapat memakai homon sintetis (buatan). Hormon sintetis
(buatan) kini dapat di beli di toko-toko obat perikanan, yaitu hormon
yang disebut Ovaprim. Namun, hormon buatan ini cukup mahal karena harus
di impor dari luar negeri. Ovaprim berbentuk cairan yang disimpan dalam
ampul. Satu ampul berisi 10 ml. Dosis pemakaiannya 0,3 - 0,5 ml untuk
seekor induk ikan lele yang beratnya 1 kg. Induk ikan lele yang beratnya 0,5 kg berarti memerlukan hormon Ovaprim 0,15 – 0,25 ml saja.
Penyuntikan menggunakan hormon Ovaprim lebih praktis
sebab hormon sudah berupa larutan sehingga tinggal disuntikan saja.
Hormon sisa di dalam ampul dapat disimpan dalam tempat teduh (suhu
kamar), tidak perlu di dalam lemari pendingin.
Persyaratan agar penyuntikan hormon dapat efektif maka induk ikan lele harus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (kawin). Apabila kondisi induk ikan lele tidak dalam keadaan mengandung telur, tentu injeksi hormon yang dilakukan tidak akan efektif (tidak berhasil).
Urutan pekerjaan memijahkan induk ikan lele dumbo secara semi-intensif adalah sebagai berikut :
1. Siapkan bak pemijahan
a). Bersihkan dan keringkan bak yang hendak digunakan untuk pemijahan.
b). Cuci dan jemur kakaban sebanyak cukup dapat menutupi 75% dalam bak.
c). Isi bak pemijahan dengan air bersih setinggi 40 cm.
d). Masukan kakaban dalam bak pe-mijahan. Di atasnya ditindih dengan pemberat/batu agar kakaban tidak ber geser.
2. Seleksi induk ikan lele dumbo
a). Keringkan kolam pemeliharaan induk, tangkap induk ikan lele jantan dan betina.
b). Pilih induk betina yang matang telur, perutnya besar dan lunak. Bila diurut ke arah anus akan keluar beberapa butir telurnya.
c). Pilih induk jantan yang sehat dan alat kelaminnya terlihat memerah dan ujungnya runcing.
d). Pisahkan induk jantan dan betina di dalam wadah yang tersendiri sambil menunggu saat disuntik.
3. Siapkan alat dan hormon Ovaprim untuk disuntikan.
4. Timbang induk betina dan jantan, kemudian tentukan dosis Ovaprim.
a). Induk yang beratnya 1 kg, dosis hormon Ovarpim 0,3 – 0,5 ml.
b). Sedot dengan injeksi spuit sebanyak hormon yang
diperlukan, misalnya 0,3 ml. Setelah itu, sedot lagi dengan jarum yang
sama akuades sebanyak 0,3 ml untuk mengencerkannya.
5. Suntikan hormon ke tubuh induk ikan lele.
a). Pegang induk ikan lele dengan menggunakan kain lap atau handuk untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal ekornya.
b). Suntikan hormon yang sudah disiap-kan tadi ke dalam daging induk lele di bagian punggung dengan kemiringan 45 derajat. Posisi penyuntikan bisa di sebelah kiri maupun kanan.
c) Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah obat
didorong masuk, jarum di cabut secara perlahan lalu bekas suntikan
ditekan dengan jari sambil di urut perlahan agar obat tidak keluar.
Setelah disuntik hormon, induk – induk ikan lele di lepaskan ke dalam bak pemijahan yang telah siapkan sebelumnya. Menurut pengalaman petani, induk ikan lele setelah disuntik selang waktu 8 – 10 jam dari penyuntikan akan memijah. Tanda induk ikan lele memijah sudah mulai berkejar-kejaran hendak memijah (kawin). Bila induk sudah tenang kembali pertanda pemijahan sudah selesai.
4. Penatasan Telur
Setelah induk ikan lele dumbo memijah (kawin), akan banyak telur yang keluar dari perut ikan lele
betina. Telur-telur itu akan menempel pada kakaban yang telah
disediakan di dalam bak pemijahan. Kakaban yang telah terisi atau
tertempel dengan butiran – butiran telur diangkat atau dikeluarkan dari
dalam bak pemijahan untuk dipindahkan ke bak penetasan telur.
Induk – induk ikan lele dumbo yang telah selesai memijah harus ditangkap dari bak pemijahan dan di kembalikan ke kolam pemeliharaan induk. Bak penetasan telur dapat berupa bak beton, bak kayu atau bak yang terbuat dari bahan fiber glass.
Bak penetasan telur diisi air bersih setinggi 30
cm. Air bisa berasal dari sumur pompa, sumur timba atau sumber air
lainnya, yang penting air tersebut tidak mengandung kaporit atau zat
kimia berbahaya lainnya.
Seluruh telur yang ditetaskan harus terendam air, ini
dimaksudkan agar telur tersebut tetap basah dan hidup. Bila kering akan
mati. Kakaban yang penuh dengan telur diletakkan terbalik sehingga telur
menghadap ke dasar bak. Dengan demikian telur akan terendam air
seluruhnya.
Telur ikan lele
dumbo yang telah dibuahi (masuknya sel sperma ke dalam sel telur)
berwarna bening atau kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak
dibuahi berwarna putih susu. Di dalam proses penetasan telur diperlukan
suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen
terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang sistem aerasi.
Aerasi adalah gerakan air dalam bak yang ditimbulkan oleh alat yang
namanya aerator. Gerakan air tersebut akan mengikat udara bebas yang ada
dipermukaan air sehingga kandungan oksigen dalam air akan tercukupi.
Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak
penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin hangat, telur akan menetas
semakin cepat. Suhu yang baik untuk penetasan telur adalah 25 – 28
derajat celcius. Jika suhu air rendah telur menetas semakin lama. Telur
ikan lele dumbo akan menetas menjadi larva antara 17 – 24 jam dari saat pemijahan.
5. Pemeliharaan Larva
Setelah dipastikan seluruh telur menetas, kakaban di
angkat dari dalam bak penetasan telur untuk menghindari penurunan
kualitas air akibat adanya pembusukan dari telur – telur yang tidak
menetas. Di samping itu juga dilakukan pergantian air yang ada di bak
penetasan telur dengan membuang air sampai tiga perempat bagian volume
air dan kemudian diisi kembali dengan air yang baru. Melakukan
pergantian air harus hati-hati agar larva yang baru menetas tidak ikut
terbuang.
Larva (sebutan anak ikan umur 1 – 5 hari) ikan lele
yang baru menetas berwarna kehijauan dan berkumpul di dasar bak
penetasan dibagian sisi yang agak gelap. Hal ini disebabkan oleh sifat
fisiologis yang diturunkan oleh induk ikan lele.
Ukuran larva lebih kurang 5 – 7 mm dengan berat 1,2
– 3 mg. Setelah berumur 2 hari, larva mulai bergerak dan menyebar ke
seluruh bak pemeliharaan larva. Sampai umur tiga hari larva tidak perlu
diberi pakan, karena masih memanfaatkan cadangan makanan yang dibawa di
dalam tubuhnya, yakni dikenal dengan istilah kuning telur. Larva ikan lele
baru di beri pakan setelah berumur 4 hari dari menetas dengan
memberikan emulsi kuning telur ayam. Pemberian pakan dengan emulsi
kuning telur tersebut sampai umur 5 hari sebanyak 3 kali dalam sehari.
Setelah menginjak umur 6 hari, larva diberi pakan alami (pakan hidup)
yang berukuran kecil berupa kutu air (dapnia) atau cacing sutera
(tubifex). Pakan buatan (dari pabrik pakan) kurang baik diberikan pada
larva karena kurang lengkap kandungan gizinya dan dapat mencemarkan air
pada bak pemeliharaan larva. Pakan alami diberikan 3 kali sehari yaitu
pagi, siang hari dan sore atau sesuai dengan kebutuhan.
Faktor lain yang perlu diperhatikan selama peme-liharaan larva atau benih ikan lele
adalah menjaga kualitas air. Pergantian air dilakukan setiap sehari
satu kali atau tergantung dari kebutuhana. Jumlah air yang diganti
sebanyak 50 – 70% dengan cara penyiponan. Penyiponan adalah mengeluarkan
air secara selektif dengan menggunakan selang sambil membuang kotoran
yang ada di dasar bak pemeliharaan larva. Selang yang digunakan adalah
selang plastik yang lentur.
Setelah benih lele berumur 10 hari, benih sudah siap untuk di panen. Agar benih lele tidak mengalami stres, pemanenan dilakukan pada pagi hari atau sore hari saat suhu rendah.
Cara memanennya adalah air dalam bak peme-liharaan
disurutkan secara perlahan, selanjutnya benih ditangkap secara hati –
hati dengan meng-gunakan seser (serokan) halus. Kemudian benih ditampung
pada wadah penampungan.
V. PENDEDERAN BENIH LELE
Pendederan adalah pemeliharaan benih lele
dumbo yang berasal dari hasil pembenihan sehingga mencapai ukuran
tertentu. Pendederan dilakukan dalam dua tahap, yakni pendederan pertama
dan pendederan kedua. Pada pendederan pertama, benih lele
dumbo yang dipelihara adalah benih yang berasal dari pembenihan yang
berukuran 0,5 – 1 cm. Benih ini dipelihara selama 12 – 15 hari sehingga
saat panen akan diperoleh benih lele
dombo berukuran kurang lebih 5 – 6 cm perekornya. Pada pendederan
ke-dua, benih yang dipelihara berasal dari hasil pendederan pertama.
Pemeliharaan dilakukan selama 12 – 15 hari sehingga diperoleh benih lele dumbo berkuran 8 – 12 cm perekornya. Pendederan ini dapat dilakukan di kolam tanah atau kolam beton/tembok.
A. Persiapan Kolam.
Sebelum benih ditebar, dilakukan persiapan kolam
terlebih dahulu. Untuk kolam yang berasal dari kolam tanah persiapan
kolam meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan dasar
kolam, perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran air, pemupukan dan
pengapuran. Perbaikan pematang bertujuan untuk mencegah kebocoran kolam.
Kebocoran kolam dapat diakibatkan oleh binatang air seperti belut,
kepiting dan hewan air lainnya. Pematang bocor mengakibatkan air kolam
tidak stabil dan benih ikan banyak yang keluar kolam.
Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan mencangkul
dasar kolam. Tujuan pengolahan dasar kolam adalah untuk menguapkan gas
beracun yang terdapat di dasar kolam.
Tanah yang baru dicangkul diratakan. Setelah dasar
kolam rata, lalu dibuat saluran ditengah kolam. Saluran ini disebut
kemalir. Kamalir berfungsi untuk memudahkan pemanenan dan sebagai tempat
berlindung benih ikan pada siang hari. Saluran pemasukan dan
pengeluaran air dilengkapi dengan saringan. Tujuannya untuk menjaga agar
tidak ada hama yang masuk ke dalam kolam dan benih lele dumbo tidak kabur atau keluar kolam.
Setelah pengolahan dasar kolam dan perbaikan
pematang, kemudian dilakukan pemupukan dan pengapuran kolam. Tujuan
pemupukan adalah untuk menumbuhkan makanan alami benih ikan lele yang ada di kolam yang digunakan sebagai pakan alami benih ikan lele.
Kolam di pupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak 300 – 500 gram per
meter persegi. Pemberian pupuk sebaiknya disebar merata pada permukaan
dasar kolam. Pemberian pupuk kimia berupa TSP dan Urea masing-masing
sebanyak 10 gram per meter persegi dan kapur pertanian sebanyak 25 – 30
gram per meter persegi atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.
Tujuan dari pengapuran selain untuk meningkatkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat untuk membunuh bibit penyakit.
Setelah pemupukan dan pengapuran dilakukan, kolam diisi
dengan air setinggi 40 – 50 cm dan di-biarkan selama 4 – 6 hari agar
pakan alami tumbuh dengan sempurna.
B. Penebaran Benih
Penebaran atau melepas benih dalam kolam di-lakukan
setelah enam hari dari pemupukan atau saat pakan alami di dalam kolam
telah tersedia. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari
dengan kepadatan 200 – 300 ekor benih per meter persegi yang berukuran
0,5 – 1 centimeter per ekor-nya. Penebaran benih harus dilakukan dengan
hati-hati agar benih lele
dumbo tidak mengalami stres. Benih yang akan didederkan atau ditebar
sebaiknya jangan ditebar langsung ke dalam kolam namun harus terlebih
dahulu dilakukan proses aklimatisasi atau penyesuaian suhu untuk
menghindari perubahan suhu yang mencolok antara suhu air kolam dan suhu
air pada wadah pengangkutan.
Cara penebaran untuk proses adaptasi suhu (aklimatisasi) benih lele
dumbo cukup mudah, yaitu dengan memasukkan air kolam tahap demi tahap
sehingga diperoleh suhu yang sama antara suhu air dalam wadah
pengangkutan dengan suhu air kolam pemeliharaan benih.
C. Pemeliharaan Benih
Kegiatan pemeliharaan benih merupakan kegiatan inti
dari pendederan benih. Selama pemeliharaan, benih harus di beri pakan
tambahan. Pakan tambahan berupa tepung pelet (makanan khusus untuk ikan)
sebanyak 3 – 5 % dari jumlah total benih yang di pelihara. Pakan
diberikan sehari 3 – 4 kali. Agar pemberian pakan lebih efektif,
sebaiknya pemberian pakan disebar merata pada permukaan air kolam
pendederan.
Untuk memperkecil mortalitas atau kehilangan benih
akibat kematian, selama pemeliharaan harus dilaku-kan pengontrolan
terhadap serangan hama dan penyakit. Hama yang menyerang benih lele
berupa belut, ikan gabus dan ular air. Tindakan pencegahan penyakit
cukup dengan menjaga kualitas dan kuantitas air kolam, yakni dengan
menghindarkan pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan yang
berlebihan akan menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang akhirnya
menjadi salah satu sumber penyakit.
D. Pemanenan Benih
Setelah benih dipelihara selama 12 – 15 hari, benih lele
dumbo siap di panen pada pagi atau sore hari saat suhu rendah atau
cuaca teduh. Pemanenan di mulai dengan mempersiapkan alat-alat panen
serta tempat penampungan benih. Setelah semua peralatan siap, kolam
dikeringkan secara perlahan-lahan sampai air tersisa hanya tinggal di
kemalir dan akhirnya habis kering. Selanjutnya benih ditangkap dan
ditampung di dalam wadah yang telah di-sediakan. Benih disortir atau
dipisahkan sesuai dengan ukurannya. Rata-rata benih telah mencapai
ukuran 5 – 8 centimeter per ekornya. Selanjutnya benih dapat dipelihara
di tempat lain untuk dibesarkan atau dijual. Kematian benih yang
dipelihara selama pemeliharaan benih lebih kurang 20 – 30 % dari jumlah
benih yang ditebar.
VI. PEMBESARAN IKAN LELE DUMBO
Hasil pada tahap pendederan benih lele
belum cukup untuk dijadikan ikan konsumsi, karena ukurannya masih
kecil, yakni baru mencapai 5 – 8 centimeter per ekornya. Sementara itu,
ikan lele dumbo
yang dinilai layak untuk dikonsumsi adalah jika telah mencapai ukuran 5 –
10 ekor per kilogramnya. Untuk itu hasil pendederan perlu dipelihara
lagi di kolam pembesaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan
pembesaran benih ikan lele dumbo merupakan pemeliharaan ikan lele dumbo hasil pendederan sampai mencapai ukuran konsumsi.
Masa pemeliharaan benih ikan lele
dumbo sampai mencapai ukuran konsumsi, yaitu sekitar 30 – 60 hari atau
tergantung dari penebaran ukuran benih yang diinginkan pada tahap awal
pemeliharaan. Misalkan untuk pemeliharaan 30 hari, petani memerlukan
benih ikan lele dengan ukuran 1 kg isi 40 ekor. Ini diharap-kan pada panen nanti akan menghasilkan ikan lele dumbo konsumsi ukuran 6 – 10 ekor per kilogramnya.
Pembesaran ikan lele
dumbo dapat dilakukan di beberapa tempat, tergantung dari situasi dan
kondisi, seperti kolam tanah, kolam yang dasarnya tanah dengan dinding
tembok, atau kolam yang semuanya tembok.
A. Pembesaran di Saluran Irigasi
Saluran irigasi dapat saja dimanfaatkan untuk pembesaran ikan lele dumbo asalkan memenuhi syarat untuk ikan lele
dumbo dan memenuhi aturan-aturan di masyarakat sekitar saluran.
Kesepakatan dengan masyarakat ini memang sangat penting karena saluran
irigasi merupakan sumber air bagi banyak masyarakat.
Usaha pemeliharaan ikan lele
dumbo di saluran irigasi ini sebaiknya hanya untuk pembesaran saja,
bukan untuk pembenihan. Hal ini sangat beralasan karena sangat riskan
menebar benih yang berukuran sangat kecil. Ikan yang masih kecil sangat
mudah terbawa aliran air.
Pembesaran ikan lele
dumbo di saluran irigasi ini dapat dilakukan asal tersedia wadah
pemeliharaan-nya, yaitu berupa karamba atau pagar penghalang dari bambu.
Sementara benih yang dapat ditebar sebaiknya sudah berukuran 25 – 50
gram per ekor.
1. Karamba
Karamba untuk pemeliharaan ikan lele
dumbo di saluran irigasi ada dua macam, yaitu karamba yang seluruh
bagiannya terendam air dan karamba yang hanya sebagian saja yang
terendam air. Bila meng-gunakan karamba yang sebagian saja terendam air,
penempatannya sebaiknya diatur secara zig-zag atau selang – seling. Ini
bertujuan untuk melancarkan aliran air dan membuat sampah tidak
tertahan di karamba. Sebaiknya bila menggunakan karamba yang terendam
seluruhnya, penempatannya tidak terlalu bermasalah karena aliran air
akan terus bergerak. Gerakan air yang tidak terhalang karamba
menyebabkan sampah akan mudah hanyut.
Oleh karena sifat dan kebisaan ikan lele
dumbo yang cenderung melompat dan menentang arus air maka pada bagian
depan karamba sebaiknya diberi tanggul. Tanggul ini berguna untuk
memperlambat aliran air yang masuk ke dalam karamba.
Namun, di bagian atas karamba diberi empat buah
cerobong ukuran 5 inci yang tingginya 10 cm melebihi permukaan air saat
air pasang tertinggi. Tujuan pemasangan cerobong agar air dalam karamba
mendapat oksigen langsung dari udara. Dengan adanya cerobong, ikan lele dumbo yang dipelihara dapat mengambil oksigen dari udara.
2 Pagar Bambu
Pagar bambu dapat saja digunakan sebagai pem-batas untuk pemeliharaan ikan lele
dumbo di saluran irigasi. Namun, penggunaan pagar bambu ini tentu saja
harus selalu memperhatikan kondisi lingkungan irigasi, terutama
kelancaran aliran air.
Lokasi pembuatan atau pemasangan pagar bambu pada
saluran irigasi sebaiknya dipilih yang mempunyai teluk atau agak
menjorok ke dalam. Ini di maksudkan agar pemagaran tidak akan mengganggu
fungsi saluran irigasi. Namun, kalau tidak ada bagian saluran yang
agak menjorok ke dalam atau saluran-nya berbentuk lurus, pagar sebaiknya
dibentuk setengah lingkaran. Bentuk pagar demikian memungkinkan aliran
air akan selalu lancar dan sampah yang terbawa aliran air akan terus
mengalir. Selain itu, pemagaran setengah lingkaran akan memberikan
kederasan aliran yang sama dengan aliran di luar pagar sehingga ikan lele dumbo akan hidup tenang.
Lebar antar celah pagar sebaiknya disesuaikan dengan ukuran ikan lele
dumbo yang akan dipelihara. Umumnya digunakan pagar dengan celah
berukuran setengah ukuran kepala ikan. Bila dipelihara ikan berukuran 5 –
8 cm, lebar celah sebaiknya 0,5 – 1 cm, ukuran ikan 8 – 12 cm, celah
pagar 1 – 1,5 cm dan ukuran ikan lebih dari 12 cm, celah pagar 2 cm.
Tinggi pagar sebaiknya melebihi ketinggian pematang
saluran. Ini dimaksudkan agar jikaterjadi hujan, tinggi air tidak akan
melewati pagar. Bila tinggi air melewati tinggi pagar maka ikan dapat
lolos atau lepas.
B. Pembesaran di Kolam Tanpa Saluran Irigasi
Pada kolam tanpa saluran irigasi, air yang mengalir ke
dalam kolam tidak sepanjang hari. Sewaktu-waktu, jika air kolam surut
perlu digunakan pompa isap untuk mengalirkan air ke kolam tersebut.
Kolam-kolam ini banyak di jumpai di daerah dataran rendah, seperti yang
terdapat adi daerah pantai utara pulau jawa. Tidak ada ketentuan khusus
mengenai luas dan bentuk kolam. Biasanya kolam yang digunakan adalah
kolam tanah atau kolam yang dasarnya tanah tetapi berdinding tembok.
Untuk memudahkan pengelolaan, sebaiknya kolam berbentuk persegi panjang.
Kedalaman kolam pembesaran harus lebih dalam dari pada kolam yang
digunakan untuk pendederan. Kedalaman kolam yang baik berkisar 75 – 150
cm.
1. Persiapan kolam
Kolam dikeringkan beberapa hari sampai permukaan dasar
kolam mulai retak-retak. Tujuannya untuk mem-bunuh hama atau bibit
penyakit yang ada di dasar kolam dan untuk memudahkan pengolahan tanah
dasar kolam.
Saluran tengah atau kamalir yang ada di kolam harus
diperbaiki kembali, jika sudah dangkal segera di per-dalam lagi,
sehingga menyerupai bentuk saluran. Cara memperdalam saluran tengah ini
adalah dengan menggali tanah yang menutupi saluran. Tanah bekas
galiannya diratakan ke seluruh dasar kolam. Saluran tengah atau kamalir
ini mutlak harus ada karena akan memudahkan pemanenan nantinya.
Langkah selanjutnya adalah memupuk tanah dasar
kolam untuk menumbuhkan makanan alami. Pupuk yang digunakan adalah pupuk
kandang berupa kotoran ayam sebanyak 400 – 500 gram per meter persegi,
TSP dan Urea masing-masing10 gram per meter persegi dan kapur pertanian
sebanyak 15 gram permeter persegi. Kapur pertanian ini berfungsi untuk
membunuh bibit penyakit dan menaikan tingkat keasaman (pH) tanah. Pupuk
dan kapur diaduk rata kemudian disebar ke seluruh permukaan tanah dasar
kolam.
Kolam diairi secara bertahap untuk memberikan
kesempatan agar pupuk bereaksi dengan sempurna. Pada hari pertama sampai
pada waktu tebar benih, air kolam sebaiknya tidak ada yang keluar atau
terbuang. Sebab, jika ada yang terbuang keluar, pakan alami yang ada di
dalam kolam yang berasal dari hasil pemupukan bisa terbawa keluar.
Ketinggian air yang dianjurkan selama proses pembesaran sebaiknya tetap
dipertahankan setinggi 75 -100 cm.
2. Penebaran benih
Penebaran benih atau melepas benih ke dalam kolam baru
dapat dilakukan setelah dipastikan kolam pembesaran benar-benar telah
siap untuk digunakan. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu
air kolam rendah untuk menghindari stres pada benih ikan lele. Jumlah benih lele
dumbo yang akan di tebar disesuaikan dengan ukuran ikan dan luasan
kolam. Jika ukuran benih yang ditebarkan 8 – 12 cm, padat penebaran 50
ekor permeter persegi dan jika benih lele dumbo yang ditebarkan berukuran 5 – 8 cm, padat penebaran 60 – 75 ekor permeter persegi.
3. Pemeliharaan
Untuk memacu pertumbuhan, selama pemeliharaan, benih ikan lele
dumbo diberi pakan tambahan. Pakan buatan seperti pelet dan pakan
alternatif dapat diberi-kan. Pakan alternatif yang bisa diberikan kepada
lele dumbo berupa
ikan-ikan rucah atau ikan yang sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi
manusia atau telah mengalami pembusukan. Di samping itu, binatang air
yang suka merusak tanaman padi, seperti keong mas dan bekicot juga bisa
diberikan. Limbah pemindangan dan limbah peternakan ayam bisa menjadi
pakan alternatif untuk ikan lele dumbo.
Jika pakan yang diberikan berupa pakan buatan
seperti pelet, pemberian pakannya dilakukan pada pagi, sore dan malam
hari sebanyak 3 – 5 % per hari dihitung dari jumlah atau bobot ikan lele yang dipelihara.
Pemberian pakan dilakukan secara bertahap agar setiap ekor ikan lele
dumbo memperoleh makanan atau pakan dalam jumlah yang mencukupi.
Pemberian pakan secara asal-asalan bisa mem-pengaruhi pertumbuhan ikan lele, sehingga ukuran ikan lele yang dipanen tidak rata. Hal ini disebabkan ikan lele
yang hanya sedikit mendapatkan pakan tentu pertumbuhannya lebih lambat
dibandingkan dengan yang mendapat pakan dalam jumlah yang cukup.
Pakan alternatif sebagian dapat diberikan langsung kepada ikan lele
dumbo. Bisa juga diolah terlebih dahulu. Pakan berupa keong mas atau
bekicot harus diolah terlebih dahulu dengan cara merebus untuk
memisahkan daging dan cangkangnya. Limbah peternakan ayam berupa bangkai
ayam diberikan setelah terlebih dahulu dibakar atau direbus untuk
menghilangkan bulunya.
Selain pemberian pakan, pengotrolan mutlak dilaku-kan
untuk menghindari serangan hama atau penyakit. Hama yang biasa menyerang
ikan lele di kolam
pembesaran adalah biawak. Pencegahan dapat di-lakukan dengan
pengontrolan ke sekeliling kolam atau dengan membersihkan sekitar kolam
dari semak semak yang dapat dijadikan sarang biawak. Lama pemeliharaan
ikan lele dumbo di kolam pembesaran 1 sampai 2 bulan atau tergantung dari kebutuhan.
4. Pemanenan
Pemanenan merupakan bagian akhir dari kegiatan pembesaran ikan. Cara pemanenan ikan lele bisa menentukan kualitas ikan lele. Cara pemanenan yang baik dan sesuai dengan cara yang dianjurkan akan menghasilkan ikan lele dumbo yang berkualitas baik pula, yakni ikan lele dalam kondisi hidup, tidak cacat dan tidak luka-luka. Ikan lele yang berkualitas harga nya tentu lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lele yang telah mati dan penuh luka.
Teknik pemanenan ikan lele dumbo yang baik adalah sebagai berikut :
a. Mula-mula kolam dikeringkan secara ber tahap pada
pagi hari dengan membuka saluran outlet atau pembuangan airnya sehingga
air hanya tersisa di saluran tengah kolam atau kamalir.
b. Ikan lele dumbo yang ada di kamalir digiring ke arah yang paling rendah pada pintu pengeluaran, hingga semuanya terkumpul.
c. Ikan lele dumbo ditangkap menggunakan sair atau alat tangkap lainnya. Dalam hal ini harus dihindari terjadinya luka-luka pada ikan lele dumbo.
d. Ikan lele dumbo ditampung di waring yang airnya mengalir agar badannya bersih dari lumpur.
e. Ikan lele dumbo dibiarkan beberapa jam, selanjutnya siap dipasarkan atau diangkut ke pasar.
C. Pembesaran Pada Kolam Irigasi Teknis
Pengelolaan kolam dengan irigasi teknis cukup mudah.
Sebab, lokasi kolam berada dekat dengan saluran air masuk dan keluar.
Kualitas air biasanya lebih baik dibandingkan dengan kolam tanpa
irigasi, karena pergantian air bisa dilakukan setiap saat sesuai dengan
kebutuhan. Kolam yang baik adalah yang memiliki saluran air masuk dan
keluar, saluran tengah atau kamalir dan pematang yang dapat menahan air.
1. Persiapan kolam
Persiapan kolam sebelum penebaran benih hampir sama
dengan yang dilakukan pada kolam tanpa saluran irigasi. Kolam juga
dipupuk dengan pupuk kandang berupa kotoran ayam sebanyak 400 gram
permeter persegi, TSP dan urea masing-masing 10 gram per meter persegi
dan kapur sebanyak 15 gram per meter persegi. Dosis bisa berubah
tergantung dari kesuburan lahan kolam. Pengisian air bertahap sampai
mencapai 75 – 100 cm.
Pengontrolan harus dilakukan untuk menjaga agar
kolam tidak bocor atau air yang masuk kurang akibat saluran masuk
tersumbat sampah. Setiap 2 minggu sekali perlu dilakukan sampling atau
pemanenan untuk menyeragamkan ukuran ikan, sehingga dapat direncanakan
waktu pemanenannya dan perkiraana kebutuhan pakannya.
d. Pemanenan
Teknik pemanenan hampir sama dengan pemanenan yang
dilakukan di kolam tanpa saluran irigasi. Air pembuangan kolam dialirkan
ke tempat yang lebih rendah atau ke sungai. Setelah kolam kering, ikan lele ditangkap dengan hati-hati untuk menghindari agar tidak sampai ada yang luka. Sebaiknya setelah dipanen, ikan lele ditampung di dalam waring yang airnya mengalir agar tubuhnya bersih.
VII. PAKAN IKAN LELE
Untuk hidup dan berkembangbiak, ikan lele me-merlukan pakan. Jenis pakan, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran dan jumlah ikan lele yang dipelihara. Ada dua jenis pakan yang disukai ikan lele,
yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan
mikroorganisme yang hidup di dalam air, seperti plankton (jasad renik
yang melayang-layang dalam air), sedangkan pakan buatan adalah pakan
yang dibuat oleh manusia atau pabrik pakan.
Karena ikan lele
tergolong ikan karnivora atau pemakan daging, pakan yang diberikan,
baik pakan alami maupun buatan harus mengandung protein yang tinggi
tidak kurang dari 30%. Pakan buatan dalam bentuk pelet diberikan
diberikan pada ikan lele yang telah berukuran agak besar, yakni 30 gram keatas. Sementara itu, ikan lele
yang berukuran lebih kecil dapat juga diberi pakan pelet, tapi dalam
bentuk tepung atau crumble (butiran kecil seperti pasir). Ukuran pakan
buatan yang diberikan disesuai kan dengan bukaan mulut ikan lele.
A. Pakan Buatan
Pakan buatan merupakan makanan yang dapat di buat
sendiri sehingga ketersediaannya dapat terjamin. Pakan buatan sangat
dipengaruhi oleh kualitas pakannya. Oleh karena itu, untuk menjaga
kualitas pakan diperlukan penyimpanan yang baik. Pakan buatan yang
dikeluarkan oleh pabrik mudah diperoleh di toko-toko yang menjual pakan
ikan. Harga pakan bervariasi. Biasanya tergantung dari kandungan protein
dan pabrik pembuatnya.
1. Pakan buatan pabrik
Pakan yang diproduksi oleh pabrik dikenal dalam bentuk
pelet dengan ukuran yang bervariasi. Pelet dapat dibuat dalam beragam
bentuk, seperti batang, bulat atau gilik (bulat memanjang). Ukuran pelet
bervariasi dari 1 milimeter, 2 milimeter dan 3 milimeter. Sampai saat
ini di negara kita cukup banyak pabrik yang memproduksi pelet. Protein
yang terkandung di dalam pelet juga bermacam-macam, dari 20 % sampai 35 %
tergantung dari jenis ikan yang akan mengkonsumsi pelet tersebut. Ada
dua macam pelet, yakni pelet terapung dan pelet tenggelam.
Pelet terapung adalah pelet yang jika diberikan kepada
ikan, beberapa saat akan terapung di atas air kolam dan bentuknya bulat.
Sedangkan pelet tenggelam jika diberikan kepada ikan langsung tenggelam
dan melayang di dalam kolam serta bentuk nya bulat memanjang (gilik).
Keunggulan menggunakan pakan buatan pabrik adalah :
a) Lebih mudah diperoleh dalam jumlah cukup, tepat waktu dan berkesinambungan.
b) Lebih tahan lama, minimum selama satu kali musim pemeliharaan sehingga pencariannya tidak perlu setiap hari.
c) Kandungan gizinya dapat diatur oleh pabrik yang bersangkutan dan disesuaikan dengan kebutuhan ikan yang akan diberi makan.
d) Bentuk dan ukuran pakan buatan dapat diatur sesuai dengan ukuran ikan atau umur ikan.
e) Daya tahan di dalam air dapat diatur dan disesuaikan dengan kebiasaan makan ikan.
f) Bau, rasa dan warna dapat diatur sehingga akan lebih menarik ikan-ikan yang diberi makan.
2. Pakan alternatif
Pakan alternatif adalah pakan jenis lain yang dapat diberikan kepada ikan lele
dumbo pada kegiatan pembesaran. Pakan tersebut bukan makanan buatan
pabrik , melainkan sisa-sisa dari industri peternakan, limbah
pemindangan, ikan rucah, keong mas. Selain harganya murah, pakan
alternatif mengandung protein yang cukup untuk kebutuhan ikan lele.
Kelemahan pakan terdapat pada cara pemberiannya, yakni kurang praktis
jika dibandingkan dengan pakan buatan pabrik seperti pelet. Pakan
alternatif sebelum diberikan memerlukan perlakukan yang khusus.
Contohnya, ayam-ayam yang mati tidak boleh langsung diberikan begitu
saja, tetapi bulu-bulunya harus dibuang dengan cara dibakar dan daging
ayam nya direbus terlebih dahulu. Demikian pula dengan ikan rucah atau
keong mas, harus dipisahkan antara daging dan tulang atau cangkangnya.
a. Limbah peternakan
Petani ikan lele dumbo yang lokasi budidayanya dekat dengan usaha peternakan ayam atau rumah pemotongan ayam sangat menguntungkan.
Hal ini disebabkan pakan yang dibutuhkan ikan lele
cukup dengan memanfaatkan limbah peternakan ayam tersebut. Pakan berupa
bangkai ayam sebaik-nya tidak diberikan langsung. Bulu-bulu ayam harus
dibuang dengan cara dibakar atau direbus. Setelah masak, pakan ini baru
dapat diberikan. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah
ikan lele yang
dipelihara. Pada prinsipnya pakan tidak sampai ada yang tersisa di dalam
kolam. Jika pakan banyak yang tersisa dan membusuk, kualitas air bisa
turun dan juga akan mengundang binatang pemangsa seperti biawak.
b. Ikan rucah
Ikan rucah atau ikan-ikan hasil tabgkapan dari laut
yang tidak layak di konsumsi oleh manusia merupakan slah satu pakan yang
disukai ikan lele.
Ikan rucah banyak sekali ditemukan di daerah pantai, terutama di daerah
yang dekat dengan tempat pelelangan ikan. Harga ikan ini relatif murah
dan terjangkau para petani ikan lele.
Ikan rucah berukuran kecil dan tidak banyak mengandung duri atau
tulang, dapat diberikan langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk
ikan rucah yang besar dan banyak mengandung duri atau tulang, sebelum
diberikan harus direbus terlebih dahulu setengah masak untuk memisahkan
daging dengan durinya. Dedak halus dapat ditambahkan atau dicampurkan
pada rebusan daging ikan rucah untuk melengkapi kandungan gizinya.
c. Limbah pemindangan
Limbah hasil pemindangan dapat juga dijadikan pakan alternatif yang cocok untuk ikan lele.
Limbah pemindangan adalah kumpulan isi perut atau bagian-bagian lain
seperti kepala, ekor, atau sirip ikan yang dibuang oleh pemindang. Pakan
diberikan dengan mencampur pakai dedak halus dan direbus sampai
setengah masak. Setelah dingin, baru dapat diberikan kepada ikan lele yang dipelihara.
d. Keong Mas atau Bekicot
Pakan alternatif lain yang dapat diberikan kepada ikan lele
adalah daging keong mas atau bekicot. Kedua jenis hewan tersebut
umumnya merupakan musuh para petani sawah karena menyerang tanaman padi.
Keong mas atau bekicot tidak dapat diberikan langsung, tetapi harus
dipisangkan daging dengan cangkangnya terlebih dahulu. Caranya cukup
mudah, yakni dengan merebus keong mas beberapa menit di dalam wadah,
kemudian satu persatu dagingnya di congkel menggunakan alat yang
runcing, sehingga terpisah dari cangkangnya. Cara lain dengan memecahkan
cangkangnya, kemudian mengambil dagingnya. Setelah bersih dari
cangkang, daging keong mas dapat diberikan kapada ikan lele yang dipelihara.
VIII. PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT
Masalah terbesar yang sering dianggap menjadi penghambat budidaya ikan lele
adalah munculnya serangan penyakit. Serangan penyakit yang disertai
gangguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi sangat lambat
(kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi ikan manjadi sangat
tinggi dan menurunnya hasil panen (produksi).
Pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif
dibandingkan dengan pengobatan, Sebab, pen-cegahan dilakukan sebelum
terjadi serangan, baik hama maupun penyakit, sehingga biaya yang
dikeluarkan tidak terlalu besar.
A. Hama
Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh dan mempengaruhi produktivitas ikan lele, baik secara langsung maupun secara bertahap. Hama yang menyerang ikan lele
biasanya datang dari luar melalui aliran air, udara atau darat. Hama
yang berasal dari dalam biasanya akibat persiapan kolam yang kurang
sempurna.
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama terhadap ikan lele :
• Pengeringan dan pengapuran kolam sebelum digunakan. Dalam pengapuran sebaiknya dosis pemakaiannya diperhatikan atau dipatuhi.
• Pada pintu pemasukan air dipasang saringan agar hama tidak masuk ke dalam kolam.
Hama yang sering menyerang ikan lele
dumbo, terutama yang masih berukuran kecil adalah ular, belut, dan ikan
gabus. Tindakan penanggulangan serangan ketiga hama tersebut sebagai
berikut.
1. Penggulangan Ular
a. Ular tidak menyukai tempat-tempat yang bersih.
Karena itu, cara menghindari serangan hama ular adalah dengan mejaga
kebersihan lingkungan kolam.
b. Karena ular tidak dapat bersarang di pematang
tembok, sebaiknya dibuat pematang dari beton atau tembok untuk
menghindari serangannya.
c. Perlu dilakukan pengontrolan pada malam hari. Jika ada ular, bisa langsung dibunuh dengan pemukul atau dijerat dengan tali.
2. Penanggulangan Belut
a. Sebelum diolah, sebaiknya kolam digenangi air
setinggi 20 – 30 cm, kemudian diberi obat pembasmi hama berupa akodan
dengan dosis rendah, yakni 0,3 – 0,5 cc per meter kubik air.
b. Setelah diberi pembasmi hama, kolam dibiarkan selama 2 hari hingga belut mati. Selanjutnya air dibuang.
3. Penanggulangan Ikan Gabus
a. Memasang saringan di pintu pemasukan air kolam, sehingga hama ikan gabus tidak dapat masuk.
b. Mempertinggi pematang kolam agar ikan gabus dari saluran atau kolam lain tidak dapat loncat ke kolam yang berisi ikan lele.
B. Penyakit
Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang di dalam tubuh ikan lele sehingga organ tubuh ikan lele terganggu. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, akan terganggu pula seluruh jaringan tubuh ikan lele. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan lele
tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga
faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang
(ikan) dan kondis jasad patogen (jasad penyakit).
Di lingkungan alam, ikan lele dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudi dayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat menyerang ikan lele dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian ikan, sehingga kerugian yang ditimbulkannya pun sangat besar.
1. Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit pada ikan lele atau peristiwa yang memicu terjadinya serangan penyakit antara lain sebagai berikut :
a. Stres
b. Kekurangan gizi
c. Pemberian pakan yang berlebihan
d. Keracunan
e. Memar dan luka
f. Cacat
g. Hama
h. Jasad patogen (penyakit)
2. Jenis Penyakit
Jasad patogen (penyakit) yang dikenal menyerang ikan lele, antara lain sebagai berikut .
a. Virus
b. Parasit
c. Bakteri
d. Jamur
3. Bagian Tubuh Ikan Yang Diserang Penyakit
Berdasarkan daerah penyerangan penyakit pada tubuh ikan lele, terutama penyakit infeksi, dibagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut.
a. Kulit
Ikan yang terserang penyakit pada kulitnya akan
terlihat lebih pucat dan berlendir. Ikan tersebut biasanya akan
menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda-benda yang ada di sekitarnya.
b. Insang
Serangan penyakit pada insang menyebabkan ikan sulit
bernafas, tutup insang mengembang dan warna insang menjadi pucat. Pada
lembaran insang sering terlihat bintik-bintik merah karena pendarahan
kecil (peradangan).
c. Organ Dalam
Penyakit yang menyerang organ dalam sering
mengakibatkan perut ikan membengkak dengan sisik yang berdiri. Sering
pula dijumpai perut ikan menjadi kurus. Jika menyerang usus, biasa nya
akan mengakibatkan peradangan dan jika menyerang gelembung renang, ikan
akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang.
4. Pencegahan Penyakit
Beberapa tindakan pencegahan penyakit yang dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Sebelum pemeliharaan, kolam harus dikeringkan dan dikapur untuk memotong siklus hidup penyakit.
b. Kondisi lingkungan harus tetap dijaga, misalnya kualitas air tetap baik.
c. Pakan tambahan yang diberikan harus sesuai dengan
dosis yang dianjurkan. Jika berlebihan dapat mengganggu lingkungan dalam
kolam.
d. Penanganan saat panen harus baik dan benar untuk menghindari agar lele tidak luka-luka.
e. Harus dihindari masuknya binatang pembawa penyakit seperti burung, siput atau keong mas.
DAFTAR PUSTAKA
Khairul Amri, Khairuman. Budi Daya Lele Dumbo Secara Intensif. AgroMedia Pustaka. 2002
Kordi K, M. Ghufran H. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. PT Rineka Cipta dan PT Bina Adiaksara, 2004
Mudjiman, A. Budidaya Ikan Lele. CV Yasaguna, 1990
Mudjiman, A. Makanan Ikan. Penabar Swadaya, 2004
Najayati, S. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman, 2003.
S.Rachmatun Suyanto, Hernowo. Pembenihan dan Pembesaran Lele di Pekarangan, Sawah dan Longyam. Penebar Swadaya, 2004.